Selasa, 08 Juli 2014
Tugas Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Nama : Cornelia Susanti
NIM : 2013210023
Prodi : Ilmu Administrasi Negara
Mata Kuliah : Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Pada hakikatnya setiap pribadi manusia adalah pemimpin yang mempunyai tujuan untuk dicapai. Setidaknya setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika ia telah mampu untuk memimpin dirinya sendiri maka barulah ia akan mampu untuk memimpin orang lain serta membimbing mereka mencapai tujuan.
Seorang pemimpin tentunya memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajiban atau tugasnya dan juga harus bertanggungjawab atas kepemimpinannya secara menyeluruh. Tanggung jawab utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan etik dan berperilaku secara etik pula. Menjadikan kesalahan diri dan orang lain sebagai pelajaran agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama Seorang pemimpin harus berfikir dengan sungguh-sungguh dan mendalam tentang segala sesuatu dalam mengambil keputusan dengan berorientasi ke masa depan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang jujur sehingga menumbuhkan rasa kepercayaan, peduli, setia, cerdas, cakap, terbuka terhadap masukan dan kritikan serta percaya kepada anggota lainnya, adanya rasa kepemilikan yaitu ikatan yang membuat komitmen bersama atas adanya tujuan bersama, menjalin komunikasi yang baik dengan bawahan agar rencana kerja terkoordinasi dengan baik, sikap menghargai, memandang suatu perbedaan sebagai asset bukannya saling membedakan dan dipersepsikan negatif, namun dipergunakan sebaik-baiknya sehingga menciptakan adanya sinergi dan kerjasama yang baik dalam suatu team.
PERAN PUBLIC RELATION DALAM SUATU PERUSAHAAN
Dalam
suatu perusahaan tentu tidak akan jauh dari suatu
permasalahan. Permasalahan itu tentunya menimbulkan
citra negatif bagi perusahaan tersebut. Dengan demikian, perusahaan akan
berusaha mencari berbagai cara untuk memecahkan permasalahan perusahaan dan
mengembalikan citra positif perusahaan. Pada suatu perusahaan, citra atau image
merupakan hal yang sangat penting yang dapat mempengaruhi positif atau negatif
aktivitas pemasaran, dimana citra berperan dalam mempengaruhi perilaku dan
keputusan konsumen.
Contohnya, suatu perusahaan
yang mengolah bahan mentah kelapa sawit menjadi minyak goreng. Selama kegiatan produksi berlangsung, banyak
masyarakat sekitar mengeluh terhadap asap pabrik, debu bungkil, limbah pabrik,
suara berisik dari pabrik tersebut dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini
meresahkan dan merugikan masyarakat. Dalam hal ini, maka akan menimbulkan citra
negatif bagi perusahaan tersebut.
Maka langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan yaitu, mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut dan mengembalikan citra positifnya!
Public relations berkaitan dengan citra perusahaan dengan pelanggan dan masyarakat pada umumnya. Public relations adalah fungsi manajemen komunikasi yang bertujuan untuk membangun, memelihara dan melindungi reputasi, mengembangkan dan memelihara citra positif dan persepsi, mengubah persepsi negatif menjadi netral dan akhirnya menjadi positif.
Berkaitan dengan contoh permasalahan perusahaan tersebut diatas, maka perusahaan harus mencari cara untuk mengembalikan citra positifnya. Cara atau usaha yang dilakukan haruslah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Cara atau usaha tersebut dapat berupa pengadakan kegiatan amal bagi masyarakat sekitar, sunat massal, memberikan limbah hasil produksi seperti serbuk sisa produksi secara cuma-cuma kepada masyarakat, pengaliran air bersih, mengadakan kegiatan promosi hasil produksi perusahaan kepada masyarakat dengan menjual hasil produksi dengan harga murah dan sebagainya.
Maka langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan yaitu, mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut dan mengembalikan citra positifnya!
Public relations berkaitan dengan citra perusahaan dengan pelanggan dan masyarakat pada umumnya. Public relations adalah fungsi manajemen komunikasi yang bertujuan untuk membangun, memelihara dan melindungi reputasi, mengembangkan dan memelihara citra positif dan persepsi, mengubah persepsi negatif menjadi netral dan akhirnya menjadi positif.
Berkaitan dengan contoh permasalahan perusahaan tersebut diatas, maka perusahaan harus mencari cara untuk mengembalikan citra positifnya. Cara atau usaha yang dilakukan haruslah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Cara atau usaha tersebut dapat berupa pengadakan kegiatan amal bagi masyarakat sekitar, sunat massal, memberikan limbah hasil produksi seperti serbuk sisa produksi secara cuma-cuma kepada masyarakat, pengaliran air bersih, mengadakan kegiatan promosi hasil produksi perusahaan kepada masyarakat dengan menjual hasil produksi dengan harga murah dan sebagainya.
Perusahaan menggunakan
public relations untuk menggambarkan diri mereka sebagai pengusaha tercerahkan,
dalam mendukung program perekrutan sumber daya manusia. Mereka juga menggunakan
public relations sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka untuk memastikan
nama baik dan citra untuk produk dan / atau jasa mereka. Sebab, citra baik
membantu konsumen dalam proses menentukan pilihannya.
Rabu, 18 Juni 2014
stereotipe visioner leadership
1. Sebagai
seorang pemimpin, penting bagi
kita membuka diri untuk mau menerima kritik serta saran dari orang lain. Tapi
harus bijak memilah milah mana pendapat dan masukan yang layak untuk ditindak
lanjuti. Seorang Pemimpin yang cerdas , ketika sebuah kritikan atau masukan
datang kepadanya maka dengan pemikiran dan hati yang terbuka akan menerima itu
semua dan berpandangan bahwa kritikan atau masukan itu merupakan suatu batu
loncatan atau motivasi untuk dia melangkah lebih maju lagi untuk menjadi agent
of change and development yang lebih baik. Maksudnya disini adalah
pemimpin ini dapat memandang bahwa kritikan atau masukan yang datang padanya
adalah merupakan suatu kesempatan baginya untuk menjadi yang lebih lagi untuk mengembangkan
kepemimpinannya dari posisi yang ada sekarang dimana dia sedang menjalaninya. Kepemimpinan
visoner dan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan
seluruh sumber daya menjalankan misi agar dapat mendekati visi yang ditetapkan
serta mampu mengembangkan intuisi, imajinasi dan kretaifitasnya untuk
mengembangkan organisasinya.Seorang pemimpin visioner harus
memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan bawahan dalam organisasi.
Hal ini dibutuhkan pemimpin untuk menghasilkan bimbingan,dorongan, dan motivasi.
2. Faktor
pendukung :
Selalu
introspeksi diri
Semua
pemimpin pernah mengalami kesalahan dan seorang pemimpin harus belajar dari
kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi.
Menerima masukan dan kritik orang
lain
Tetapi harus
bijaksana dalam menanggapi masukan dan kritik tersebut.
3. Faktor yang
menghambat :
Komunikasi yang kurang baik.
Komunikasi
dalam kepemimpinan melibatkan minimal dua pihak yaitu pihak yang memimpin dan
pihak yang dipimpin. Komunikasi antara keduanya sangat menentukan dalam hal
ini. Bagaimana kinerja serta kontrol kerja akan terlaksana dengan baik jika
komunikasi antara atasan dan bawahan kurang baik?
Bawahan berusaha
untuk mengerti sedangkan pemimpin berusaha untuk memahami bawahan, dan selanjutnya
mengomunikasikan dengan jelas dan menarik apa yang menjadi keinginan atau
visinya.
4. Cara
mengatasi :
Menyampaikan secara terbuka.
Keterbukaan
dalam berkomunikasi akan menumbuhkan rasa saling percaya di antara kedua belah
pihak. Sampaikanlah bukan saja apa yang Anda perlu sampaikan, melainkan lebih
dari itu. Keterbukaan yang dimaksud tentu dengan kebijaksanaan.
Menyampaikan maksud dengan jelas
Lebih baik
menggunakan satu kalimat yang dapat dimengerti, daripada seribu kalimat yang
sulit dimengerti. Sehingga penyampaikan informasi tidak menimbulkan
kebingungan dan kesalahpahaman.
Rabu, 07 Mei 2014
potensi konflik
Dalam melakukan sebuah perubahan tentu nya tidak
terlepas dari konflik. Kebanyakkan kita beranggapan bahwa konflik itu bersifat
negatif, namun terkadang sebuah konflik dapat memunculkan segi positif pula
seperti munculnya pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi
konflik, munculnya kompromi apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan yang seimbang.Misalnya,
adanya kesadaran dari pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali karna
dirasakan konflik yang berlarut tidak membawa keuntungan dan lain sebagainya.
Konflik dapat kita jadikan sebuah pembelajaran sebagai koreksi dalam merealisasikan visi dan menjalankan misi, bagaimana kita bertindak, dan bagaimana kita mengambil keputusan yang benar. Jika terjadi konflik maka setiap orang akan mencari cara terbaik untuk meredam koflik tersebut. Dengan begitu maka konflik juga dapat mendorong dalam mencapai visi kita.
Konflik dapat kita jadikan sebuah pembelajaran sebagai koreksi dalam merealisasikan visi dan menjalankan misi, bagaimana kita bertindak, dan bagaimana kita mengambil keputusan yang benar. Jika terjadi konflik maka setiap orang akan mencari cara terbaik untuk meredam koflik tersebut. Dengan begitu maka konflik juga dapat mendorong dalam mencapai visi kita.
Langganan:
Postingan (Atom)